Kesenian Wayang Palembang

Wayang menjadi warisan kebudayaan yang dikenal luas di Pulau Jawa. Namun siapa sangka bila Palembang juga memiliki kebudayaan hiburan tersebut sejak beberapa abad lalu. Meski berakar dari daerah asalnya, Wayang Palembang memiliki beberapa ciri khas yang kini masih bertahan.

Wayang Palembang diperkirakan tumbuh sejak pertengahan abad ke-19 Masehi, saat Arya Damar terpengaruh budaya Jawa berkuasa di daerah Palembang. Wayang itu kemudian terus tumbuh dengan karakter lokal sehingga menjadi khas Palembang.

Pertunjukan Wayang Palembang tidak jauh berbeda dengan wayang lain. Wayang Palembang punya tokoh – tokoh pewayangan yang sama dengan Wayang Jawa. Khasnya, Wayang Palembang terkesan jauh dari sumber aslinya, tetapi ketika diikuti, lakon atau motif ceritanya tetap saja sama dengan Wayang Jawa.

Wayang Palembang diiringi oleh seperangkat gamelan berlaras pelog dengan caturan atau gendhing yang memiliki bentuk dan harmoni yang telah diolah sesuai budaya Palembang. Akan tetapi, wayang satu ini tidak melibatkan sinden atau penyanyi tradisional saat pementasan.

Bila wayang lainnya menggunakan bahasa Jawa, Wayang Palembang memakai bahasa asli yang memang memiliki kemiripan dengan bahasa Jawa. Wayang Palembang berwarna kuning tembaga, bukan keemasan seperti di Wayang Jawa. Waktu pementasan Wayang Palembang juga hanya 1-3 jam, berbeda dari Wayang Jawa yang bisa semalam suntuk.

Wayang pada umumnya menghadirkan Bagong dalam sebuah cerita Mahabarata, namun tokoh tersebut ditiadakan karena saat diboyong ke Palembang sekitar abad ke-17 Masehi belum dilahirkan. Tokoh dalam perwayangan Palembang mendapat gelar sesuai nama daerah seperti Wak (paman) atau Raden.

Sayangnya, keberadaan Wayang Palembang di tengah-tengah masyarakat terus dilupakan seiring perkembangan zaman dengan kemajuan teknologi di dalamnya. Bahkan, yang tercatat di UNESCO hanya satu sanggar Wayang Palembang yang tersisa saat ini.

Namun meski minat masyarakat mempelajari atau menonton minim, kebudayaan lokal ini masih sanggup bertahan hingga sekarang. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat lokal, khususnya anak muda juga ikut berupaya untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan khas daerah ini agar tidak hilang dan bisa dicintai lagi seperti sedia kala.

 

  • diolah dari berbagai sumber
🔥402

If you liked this article
please click on the "Like!".