Tentang Rindu yang Berujung Temu

Waktu yang sedang dilalui menuntun kita untuk membawa pergi pada kehidupan kita masing-masing.

Karya :ErikJumpar

Delapan tahun lalu kita berjumpa dalam ruang temu yang tak terduga. Usai pertemuan perdana, kita pun sepakat untuk arungi hari sebagai sepasang kekasih. Sejak saat itu, pertemuan kita dilalui dalam warna sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Hari dilalui dengan sepenuh hati, sungguh singgah yang teramat sungguh.

Dalam perjalanan waktu, hubungan kita dijalani laiknya sepasang kekasih pada umumnya. Kamu menjadi yang terindah di dalam hidupku, begitupun sebaliknya. Aku merasakan kehadiranmu yang berpengaruh pada hari-hari yang sedang diarungi.

Namun, tiba di suatu masa, entah kenapa kita memilih untuk tak lagi bersama. Pilihan di awal kita bertemu ternyata membawa kita pada jurang yang memisahkan jalan hidup kita masing-masing. Ada kepentingan pribadi yang dalam perjalanan waktu ternyata mengurungkan niat kita untuk bersama. Kamu pergi bersama mimpi-mimpimu, aku juga begitu. Pergi bersama dengan mimpi-mimpiku.

Alhasil, semenjak kita bertarung dengan pilihan kita masing-masing, berbagi kabar pun jarang dilakukan. Sapaan yang biasanya sambuti hari baru tak lagi warnai percakapan di ruang maya. Doa yang didaraskan untuk tutupi hari juga diabaikan bersama dengan kesibukan yang sedang kita tuntaskan kala itu.

Waktu yang sedang dilalui menuntun kita untuk membawa pergi pada kehidupan kita masing-masing. Akan tetapi, sebenarnya seluruh rasa yang pernah tumbuh bersama justru tidak bisa dihempas begitu saja bersama waktu. Alih-alih lenyap dari perjalanan hidup kita masing-masing, rasa itu justru kembali terkuak saat rutinitas berbagi kabar kembali dirawat, saat aku berkata jujur bahwa rasa itu masih sama, saat kamu mengakui bahwa rasa itu juga masih ada di dalam hatimu.

Hubungan yang pernah pupus berkat ruang dan waktu yang terpisah, kini kembali dipupuk. Setelah kita sepakat untuk memulainya dari awal, ternyata ada rasa sayang yang belum purna, ada rasa cinta yang belum sirna. Pertemuan di delapan tahun lalu membuktikan bahwa tatapan perdana membuat semuanya abadi dalam perjalanan.

Di minggu yang telah lewat, rindu yang pernah tertahan karena pilihan kita masing-masing memberi bukti bagi kita, bahwa rasa yang tumbuh di awal kita bertemu masih kental saat merayakan ruang temu bersamamu. Benar bahwa pengakuanmu tentangku bukan hanya bualan semata. Tentang rasa yang ternyata tumbuh dari dalam hati, tentang hati yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Aku kian menyadari kehadiranmu yang begitu berarti. Rasa sayang yang dulu ada kembali dipertegas dengan bersama membuat komitmen saat kita untuk merayakan ruang temu. Seluruh angan tidak mengendap dalam lamunan, tetapi ia hadir dalam itikad baik merayakan masa muda sebagai sepasang kekasih yang tidak menghianati rasa.

Sekarang aku semakin percaya diri bahwa kamu sosok yang istimewa. Saat kita bertemu pada minggu yang telah lewat, aku bersyukur karena kamu masih seperti dulu. Aku bersyukur bahwa kamu mau menemani hariku saat ini. Jika semesta berbaik hati dan mengizinkan kita, mungkin aku akan membawamu di altar yang suci sembari mengucapkan janji suci demi arungi hidup bersamamu.

Aku percaya bahwa bersamamu akan membawa hariku menjadi lebih baik. Sekarang kita memiliki tugas untuk merawat isi hati kita masing-masing. Biar rasa dan raga tidak terbang bersama pilihan yang lain. Bukan karena ego tentunya, tetapi karena rasa sayang yang begitu besar timbul di dalam hatiku. Bahwa pilihan yang terbaik yakni saat lalui hari bersamamu saat ini hingga di masa depan.

Dalam catatan ini, aku hendak mempertegas tentang kerisauanmu yang sejauh ini belum sepenuhnya percaya denganku. Engkau tidak perlu risau bahwa kini aku sedang tidak serius kembali ke dalam pelukanmu. Sebetulnya kerisauanmu itu terlalu berlebihan, ada rasa yang aku pikul demi lalui hari bersamamu, ada cinta yang tulus untuk berjalan mulus bersamamu meski di jalan yang tak lurus sekalipun. Percayalah!

Apabila engkau masih meragukanku, lalu untuk apa aku menunggu waktu agar kembali bersamamu? Untuk apa aku masih menyimpan rasa sayang dalam waktu yang lama? Toh, terlalu egois apabila aku hanya membuang-buang waktu bersamamu hanya sekedar menghabiskan masa muda, sementara saat bersamaan usia kian merangkak jauh. Kamu tidak perlu risau. Aku menyayangimu sepenuh hati. Sekali lagi, percayalah!

Sumber : IdnTimes.Com

🔥17

If you liked this article
please click on the "Like!".