Saudari untuk ibu

Oleh Rizqi Framudiana Putri

 

“Kenapa Allah berikan cobaan buat hambanya jika semua itu menyakitkan bu?.”

Teringat jelas dalam benakku sebelas tahun silam, ketika masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, saat itu semua terasa baik-baik saja hingga nyaris sempurna menurutku, tentang apa “arti sebuah keluarga”.

Dilahirkan pada hari rabu, enam agustus seribu sembilan ratus sembilan puluh tujuh, dalam rahim wanita sederhana dan pasangan laki-laki yang biasa saja, itu adalah hal yang paling aku syukuri dalam hidup ini. Namun semua tak berjalan seperti kata yang tersemat dalam do’a. Seperti dongeng Putri Tidur ataupun Cinderella.

Hari itu aku pulang dari sekolah dengan wajah yang sangat gembira, membawa sepeda ontel kesayangan, serta nilai yang sangat memuaskan. Iya benar, saat itu hari kenaikan kelas, dari kelas tiga menuju kelas empat dengan memperoleh peringkat pertama. Seperti kebanyakan gadis kecil didunia ini, mengharapkan liburan yang dapat mengurangi beban setelah kesibukan sekolah yang menyita pikiran, bahagia tentunya.

Senyum tak hentinya terukir di bibir, serta gelora membuncah dalam dada, tak sabar mengatakan berita suka kepada kedua orang tua, apalagi membaginya dengan seorang laki-laki yang kupanggil Ayah yang kata ibu akan pulang dari perjalanan niaganya, iya Ayah saya seorang pebisnis kayu yang sebulan hanya menetap di rumah selama seminggu.

Dengan semangat aku ketuk pintu rumah surga, hehe itu menurutku teman, bukankah dalam satu riwayat hadist mengatakan “Baiiti Janaati” rumahku adalah surgaku, dan semua itu yang selalu diterapkan oleh seorang Ibu dalam hidupku. Setelah daun pintu bergerak, Ibu menyambutku dengan senyuman indahnya setelah saya mengatakan bahwa menjadi pemenang telah berada dalam genggaman.

“Jangan berpuas diri nak, banyak  pengatahuan yang belum kau ketahui didunia ini”. Nasehat ibu yang tak pernah ku lupa, iya bu kau benar, saya harus memposisikan berada dalam zona bahaya, membuang semua kepuasan jiwa, dan senantiasa rakus akan ilmu yang belum terperoleh.

 

Setelah menunggu lama, menanti kehadiran senja, menggantikan mentari dengan purnama, serta tak lelahnya menghitung detik jam yang berdetak di dinding, menyambut sang pacar tentunya, hehe bukankah seorang ayah adalah kekasih pertama anak gadisnya bukan?,. itulah yang aku rasakan, dan tak dapat dipungkiri jika engkau teman wanitaku maka kupastikan  juga merasakan itu.

Malam itu saya teringat jelas, dalam ruang tamu yang luasnya lima kali lima meter kami sekeluarga bercengkrama, ada aku, ibu, Lutfi adik perempuanku yang berusia tiga tahun, dan terakhir Rivan adik laki-lakiku yang berusia satu tahun menanti ayah dari kepergiannya. Setelah menghabiskan waktu yang tak sedikit, pintu pun terketuk dari luar, dan ayah datang dengan senyuman membawakan buah jeruk favoritku, serta mainan baru untuk kedua adik tercinta.

Namun, ada yang berbeda dengan kepulangannya waktu itu, ayah juga membawa seorang wanita cantik, dan menurutku seperti ibu peri dalam dongeng cinderella yang dapat membuat indahnya sepatu kaca hehe, aku berkhayal teman, yah maklumlah aku masih seorang gadis kecil dengan semua imajinasi di kepala.

Ayah mengatakan bahwa itu saudara jauhnya yang akan menginap satu malam dalam rumah surga, aku berfikir jika itu sudara ayah berarti saudari ibu dan tentu saja keluargaku.

Setelah  rasa kantuk menjemput, kami semua beranjak tidur, kata ayah, wanita itu tidur bersama ibu dan ayah akan tidur bersama kami, maklum teman rumahku tak sebesar yang kalian kira, hanya ada dua kamar yang tersedia, tapi aku tak pernah mengharap lebih, karena bagiku cukup ada ayah, ibu, dan adik semua terasa sempurna.

Namun malam itu terasa aneh, entah hanya relung hatiku yang merasakannya, ibu nampak sangat diam tak seperti biasa, ahh mungkin hanya kecemasan yang tak terkira.

Ketika ayah sudah tidur disampingku memeluk adik-adikku, aku masih tak dapat memejamkan mata karena terdengar samar suara tangis di telinga. Kuberanikan diri menapakkan kaki keluar dari kamar itu menuju kamar disebelahnya, dan aku melihat ibu meringkuk seperti janin, menutup mulutnya menahan isakan, membelakangi wanita yang kata ayah saudaranya.

Bingung, dalam benakku berdebat muncul pertanyaan mengapa ibuku menangis? apakah sedang dalam keadaan sakit? Atau migrain yang biasanya ibu derita? Dan aku tak berani melangkah menghampirinya, mengurungkan niat untuk tidur dalam pelukannya.

Masih jelas teringat pagi setelah malam itu berlalu, ayah tak ada lagi di rumah, kata ibu mengantarkan wanita saudara ayah, saudari ibu dan keluargaku pulang kerumahnya. Aku cemberut tak terima jika ayah pergi, karena baru tadi malam datang sekarang telah hilang, dengan memonyongkan bibir yang kata ibu bisa dikuncir hehe.

Aku masih saja belum berani mengatakan kalimat tanya mengapa tadi malam ibu menitikkan air mata, hanya dapat diam melihat raut wajah ibu yang terlihat meredup, yah benar, aku memang sepengecut itu.

Waktu terus berlalu hingga mentari beranjak sampai ubun-ubun, aku masih saja ingat kejadian malam itu walaupun sekarang dalam keadaan bermain bersama teman, melemparkan sandal pada tumpukan sandal yg tersusun bersegi, melumpuhkan benteng yang sedang terjaga, serta tidak hentinya peluh keringat bercucuran dan sedikitpun tak kupedulikan, hanya kepuasan bermain yang merasuk dalam jiwa, ahh indahnya waktu kecil.

“Ayahmu bawa istri baru ya?”. Saya terdiam menghentikan permainan, mengusik fikiran ingin bertanya, kenapa bibi tetangga sebelah mengatakan itu?, tak ingin terlalu jauh berspekulasi, aku memutuskan pulang kerumah mengungkapkan semuanya kepada ibu.

“itu saudari untuk ibu, jangan benci ayah, biarlah, ibu selalu ada untuk kalian”. Tutup ibu menjelaskan. Aku termenung lama, memikirkan wanita itu berarti bukan ibu peri baik yang membuat sepatu kaca untuk cinderella, mungkin nenek sihir yang memberikan racun dalam apel untuk putri tidur selamanya. Sesalku.

“Kenapa Allah berikan cobaan kepada hambanya jika itu menyakitkan bu?” tuturku. Karena Allah sayang sama kita, ingin memperlihatkan pada dunia, Allah tau jika kita mampu, jawab ibu.

Itu sepenggal pengalaman hidup yang tak pernah saya lupa, mengingatkan selalu jika saya mempunyai wanita hebat, seperti dalam surat Ar-Rahman.

“Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”. Tutupku.

 

 

🔥29

If you liked this article
please click on the "Like!".