Cerita Kontroversi Pemilu 2019

Ringkaskata.com | Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan berbagai berita tentang kesalahan input data yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tidak hanya sekali, sudah beberapa kali KPU dikoreksi oleh para netizen karena memasukkan data yang keliru dalam penghitungan surat suara di website www.kpu.go.id. Hal ini dikarenakan para netizen juga ikut mengawal C1 Pleno (Surat Hasil Penghitungan Suara) demi terciptanya pemilu yang jujur dan adil.

Dalam pelaksanaannya, pemilu 2019 memang memunculkan banyak kontroversi. Dibawah ini rentetan kontroversi yang dihimpun oleh tim Ringkaskata dalam pelaksanaan pemilu 2019 :

  1. Adanya salah input data oleh KPU.

Salah satu Contoh nyata KPU salah menginput data C1 Pilpres ialah pada C1 TPS 04 desa Blaban kecamatan Batumarmar kabupatem pamekasan Jawa timur. Disana tertulis dalam C1 Pilpres Pasangan nomor urut 01 mendapat perolehan suara 71, sedangkan Pasangan nomor urut 02 mendapat 115 suara. Namun ketika di input dalam website www.kpu.go.id , terjadi kekeliruan. Ialah ppada perolehan suara paslon no 02. Di website KPU mencantumkan angka 159, yang seharusnya 115.

Tak hanya itu, kesalahan serupa juga terjadi di TPS 10 desa Tanjung raja kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Lampung Utara, Lampung. Lagi lagi,  tertulis dalam C1 Pilpres Pasangan nomor urut 01 mendapat perolehan suara 53, sedangkan Pasangan nomor urut 02 mendapat 157 suara. Namun ketika di input dalam website www.kpu.go.id , terjadi kekeliruan. Ialah pada perolehan suara paslon 01, mendapatkan total suara 128,  yang seharusnya 53. Dan juga paslon 02 yang memperoleh suara 85, yang seharusnya 157. Mengapa KPU tidak bisa menghitung?

  1. Dana penyelenggaraan pemilu 2019 yang dinilai terlalu besar.

Selain tentang kekeliruan ini, sebetulnya Pemilu 2019 kali ini cukup dikatakan “unik”. Mulai dari anggaran yang cukup besar dibanding 2014, yakni 25 Triliyun. Namun, yang mengherankan ialah Kotak Suara nya. Anggaran 7 triliun th 2014 memakai Kotak Suara berbahan Alumunium, namun 2019, kotak suara diganti kardus.

  1. Adanya indikasi kecurangan.

Indikasi kecurangan mencuat pada pemilu kali ini. Hal ini viral di sosial media dimana para netizen ramai – ramai mengunggah tindak kecurangan seperti pencoblosan yang dilakukan oleh petugas KPPS, ditemukannya surat suara tercoblos di Malaysia dan berbagai tempat di Indonesia, kurangnya surat suara, hingga DPT yang tidak  bisa menyalurkan hak pilihnya  karena berbagai alasan. Akhir-Akhir ini juga terdengar kabar bahwa kotak suara dibakar hingga di curi.

Hingga kini, perolehan suara yang masuk ke website  KPU masih terus berlangsung. KPU mentargetkan penghitungan akan selesai pada 22 Mei 2019.

 

 

Djihard / ALI

🔥37

If you liked this article
please click on the "Like!".