Sempat Dikira Punah, Lebah Raksasa Wallace Ini Ditemukan Kembali di Indonesia

Sobat RK tahu? Ada kabar gembira nih dari dunia hewan khusunya serangga, yakni ditemukannya kembali Lebah raksasa Wallace yang sempat diduga hilang atau punah setelah 38 tahun yang lalu, wih… bukan waktu yang lama kan?

Ringkaskata.com | Mau tahu apa itu Lebah raksasa Wallace? Mari simak dibawah ini.

Lebah raksasa Wallace (Megachile pluto) terakhir kali terlihat hidup di sebuah pulau di Indonesia pada tahun 1981. Menurut laporan, serangga yang ukurannya jauh lebih besar dibanding Lebah Madu Eropa itu tak pernah menampakkan diri lagi, tapi sekarang sekelompok tim ilmuwan telah menemukannya di Maluku Utara.

Lebah Wallace berukuran sangat besar loh sobat. Panjang tubuhnya bisa mencapai empat sentimeter, sementara lidahnya bisa sepanjang tiga sentimeter. Namun, hampir 40 tahun berlalu tak ada lagi yang mendengar atau pun melihat jejaknya di alam liar.

Sebab itu, menemukan jejak kehidupan lebah raksasa Wallace adalah sesuatu yang sangat dinanti dan menjadi tantangan sendiri bagi para ilmuwan juga pecinta serangga. Pengalaman mengesankan itu setidaknya dirasakan oleh Clay Bolt, seorang fotografer yang menjadi bagian dalam tim kecil pencarian lebah Wallace.

“Sangat menakjubkan melihat serangga terbang “bulldog” yang selama ini dianggap sudah tidak ada. Dan kami ingin mencari bukti nyatanya di alam liar,” kata Bolt. Pencarian tim kecil itu membuahkan hasil ketika Bolt dan timnya menemukan sarang rayap di pohon.

Menurut mereka, itu adalah rumah yang sangat disukai lebah raksasa. Melansir NPR, Kamis (21/2/2019), lebah betina raksasa membuat terowongan dan sarang di pohon dengan resin atau getah kayu. Mereka menciptakan ruangan sendiri yang jauh dari rayap.

“Spesies ini benar-benar besar dan sangat cantik. Saya mendengar suara kepakan sayapnya terbang melewati kepala saya, sungguh luar biasa,” ujar Bolt antusias. Lebah raksasa Wallace difoto oleh Clay Bolt di luar rumahnya.

Spesies yang telah menghilang selama 40 tahun ini ditemukan di kepulauan Maluku. Tim pun memposting video berjudul b-roll (!) untuk menunjukkan bagaimana gaduhnya suara lebah raksasa Wallace yang terbang dari dalam kandang kecilnya. Bolt dan timnya menyebut dengungan lebah Wallace mirip lebah madu, tapi dengan nada lebih tinggi.

Lebah Wallace memang bukan tipe yang suka menampakkan diri di depan manusia. Buktinya saja, lebah ini pertama kali ditemukan pada 1850-an oleh naturalis Inggris Alfred Russel Wallace dan baru terlihat lagi pada 1981 di Indonesia. Kemudian ia dianggap punah, tapi kini ditemukan lagi.

“Lebah ini dianggap sudah punah sebelumnya. Saya senang mendengar ada yang menemukannya dan (kepunahan) itu tidak terjadi,” ujar profesor Dave Goulson yang mengepalai laboratorium lebah di Universitas Sussex.

Pencarian lebah Wallace Bolt tergabung dalam program bernama Pencarian Spesies yang Hilang dari Pelestarian Satwa Liar Global. Program ini berlangsung selama lima hari menyusuri Maluku Utara.

Bolt menyusuri kawasan Maluku Utara bersama dengan entomolog Universitas Princeton Eli Wyman, seorang profesor biologi dari Universitas Sydney, Australia Simon Robson, dan seorang profesor di Saint Mary’s University di Kanada Glen Chilton.

Keberuntungan sepertinya berpihak pada Bolt dan tim kecilnya. Sebab, di hari terakhir penelusuran mereka menemukan sarang lebah Wallace. Menurut pengamatan mereka, lebah Wallace tak hanya memiliki ukuran tubuh yang besar.

Sebenarnya, Lebah Wallace terakhir terlihat pada 1981 oleh seorang ahli serangga dari Amerika, Adam Messer.Setelah itu, lebah Wallce sempat dikira sudah punah selama 38 tahun karena tidak pernah terlihat di mana pun.

Pada 1981, Adam Messer menemukan lebah raksasa ini di tiga pulau di Indonesia. Ia mengamati bagaimana lebah Wallace menggunakan mandibula raksasa untuk mengumpulkan damar dan kayu untuk sarangnya yang anti rayap.

Dari lebah betina yang ditemukan, Adam Messer juga menemukan lebah ini menggunakan rahang bawahnya untuk mengikis resin pohon.Sedangkan dengan menggunakan labrum dan mandibula, lebah Wallace betina menggulung resin menjadi bola besar yang kemudian dibawa ke sarang.

Labrum adalah sabuk tulang rawan berbentuk melingkar yang melingkupi bola dan soket sendi seperti pinggul dan bahu. Fungsinya adalah untuk meningkatkan kongruensi dan stabilitas sendi.

Sebelum ditemukan terakhir kali pada 1981, lebah Wallace ditemukan pertama kali pada tahun 1858 oleh penjelajah Inggris, Alfred Russel Wallace di Pulau Bacan, Indonesia. Lebah Wallace betina yang ia temukan digambarkan sebagai serangga besar seperti tawon hitam dengan rahang yang sangat besar seperti kumbang rusa.

Dengan ditemukannya lebah yang dianggap sudah punah ini, para ilmuwan berharap mendapatkan berbagai informasi baru mengenai lebah ini.Para ilmuwan juga berharap bisa menemukan habitatnya yang terpencil dan secara tidak langsung bisa melindungi mereka dari perburuan dan penjualan hewan langka.

Namun, tetap saja, lebah Wallace merupakan hewan yang harus dilindungi, yah sobat. Itu karena habitatnya yang hilang disebabkan oleh perubahan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit atau aktivitas lain.

Meski begitu, habitat terpencilnya secara tidak langsung mungkin akan melindungi lebah Wallace dari bisnis perburuan lebah yang menjual spesimen langka. Bolt dan Wyman mengatakan, kehidupan lebah langka ini perlu dilindungi dan mendapat perhatian lebih.

Terlebih, lebah terbesar di dunia itu menghadapi ancaman perburuan ilegal dan hilangnya habitat karena lahan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit atau aktivitas lain.

Rep: Mas23 / Ed: Azz

Diolah dari berbagai sumber

🔥4

If you liked this article
please click on the "Like!".