Saat Jiwa dan Hati Tertawa, Belajarlah Merawat Duka

Hai Rinks, pernahkah kamu tertawa saat orang lain menertawaimu? Pernahkah kamu tersenyum saat hatimu terluka? Pernahkah kamu bahagia saat ragamu meronta? Pernahkah hatimu ringan saat dunia menyalahkanmu? Pernahkah?

Ringkaskata.com | Jiwa ternyata juga memiliki jiwa didalamnya, karena ia menampakkan hal yang berbeda dari apa yang kamu rasakan. Jiwa bisa membohongimu dengan menampilkan jiwa yang lainnya, mengobral kenyataan dengan khayalan semu yang membuatmu terpikat.

Kamu terluka, sadarilah saat ini kamu tengah terluka, dibalik tawamu yang renyah, dibalik senyummu yang teduh, diantara hatimu yang sendu, ada luka yang tak sengaja kamu tutupi. Hanya mengendap, terpaku diam tak berdaya dipojokan, kamu menyisihkannya menumpuk dan meninggi disana.

Hey sobat bahagia, jangan bersikap tidak adil pada duka, jangan bersikap kejam hingga membuatnya terpuruk, walaupun ia kerap datang dan memaksamu sendiri, ia tetap menjadi bagian dari dirimu. Saat kamu memilih untuk mengabaikannya, dan membiarkannya tak berdaya diantara sekat yang tak terurus, hal itu justru akan menyakiti dirimu sendiri.

Sadarilah sobat, saat jiwa dan hatimu mudah tertawa saat seharusnya merasakan sakit, mulailah belajar merawat duka, rangkul dan dekap erat ia, seolah kamu tak mau kehilangannya lagi. Panggil dan rasakan sakit itu, terima dan dekap erat sakit itu, biarkan ia melukai hatimu hingga membuatmu menangis, biarkan, sampai ia merasa ada dan dibutuhkan.

Bayangkan rasa sakit terperih yang pernah kamu rasakan, panggil ia kembali dalam ingatanmu, ciptakan sosok nyata untuk rasa sakit itu. Bisa saja menyerupai seseorang yang pernah menjadi bagian terbaik dihidupmu, sebelum akhirnya menyakitimu. Panggil ia kembali, bayangkan sebuah raga itu nyata, raga yang bisa sangat menyakitimu hanya dengan memandangnya. Biarkan ia sejenak, belajarlah menerima duka, rawat ia, tumbuh kuatlah bersamanya, jangan biarkan ia mematung di bawah jendela, dan kamu abaikan dengan tak menganggapnya ada saat melambai keluar jendela.

Jika perlu putar lagu Sheila on 7.

Awan hitam, menghantui langkahmu
Bagaimana mungkin jika itu pilihanmu
Disini tak lagi jadi rumahmu

Saat kamu cukup yakin sudah mendengarkannya terlalu jauh, bahkan sampai membuatmu terisak, membuat bantal dan gulingmu terlena karena sembab yang sendu. Kini saatnya duka mendengarkanmu, rangkul dan bawa ia pada kondisi terbaiknya, jadikan ia raga yang terawat didalam jiwamu. Karena pada kenyataannya ia dan kamu adalah satu.

Teruntuk sobat RK yang masih ragu untuk merawat duka yang hanya membuat sesal, cobalah bersikap dewasa dan pahami apa yang terbaik untuk dirimu. Semoga penantianmu berakhir pada titik yang rindang, sampai jumpa lagi.

 

Rep : KTR-MIN / Ed : Azz

 

 

 

 

🔥5

If you liked this article
please click on the "Like!".