Jakarta, Ringkaskata.com | Keberadaan program studi Spesialis Kedokteran bidang Kelautan (Spkl), diharapkan bisa memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan dan spesialis di bidang kedokteran kelautan. Karenanya, Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Kemaritiman mendorong dibukanya prodi tersebut.

Dilansir dari Republika.co.id, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Agus Purwoto dalam acara Simposium dan Workshop Nasional I Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan (Perdokla) di Jakarta, Sabtu (30/6), menilai, bahwa bidang keselamatan kerja maritim dan pariwisata sangat membutuhkan kehadiran dari sumber daya potensial dan produk inovatif dari kedokteran kelautan.

“Kebutuhan sangat banyak, akan tetapi sumber dayanya masih sangat sedikit, ini yang harus kita lembagakan. Untuk beberapa hal kita masih bergantung dari luar Indonesia, ini yang sangat menyedihkan padahal peluang itu sangat terbuka lebar,” ujarnya.

Baca Juga : Mendikbud Minta PPDB Bebas Praktik Jual Beli Kursi

Untuk segera mewujudkan prodi tersebut, Kemenko Bidang Kemaritiman akan bersinergi dengan beberapa kementerian/lembaga terkait, seperti Kementerian Riset dan Teknologi, Pendidikan Tinggi dan juga Kementerian Kesehatan.

“Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan karena ini bukan bentuk latihan saja akan tetapi bentuk keahlian profesi, dan ini akan terus kita perjuangkan itu,” tegas Agus.

Belum lama ini, Kemenko Bidang Kemaritiman telah mengumpulkan beberapa dekan dari beberapa universitas terkemuka di seluruh Indonesia untuk membantu upaya pembukaan prodi baru tersebut.

“Prodi baru yaitu Spkl sekarang masih dalam proses. Nanti apabila sudah terwujud prodi Spkl, tentunya akan sangat maksimal fungsinya untuk membantu mewujudkan nawacita Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” kata Ketua Perdokla dr Ari Riono.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan TNI Angkatan Laut, drg Nora Lelyana menuturkan pemerintah saat ini telah menempatkan pembangunan poros maritim sebagai salah satu prioritas nasional dan sudah masuk dalam rencana prioritas tahun 2015-2019.

Ia melanjutkan, Parameter dari kedokteran kelautan adalah penguasan teknologi dari personel-personel pilihan di spesialis kedokteran kelautan, di antaranya adalah teknologi di bidang “hiperbarik” (terapi oksigen) dengan menggunakan teknologi “chamber” (ruangan udara bertekanan tinggi, dengan tekanan atmosfer lebih dari 1 atm) diperuntukkan untuk mengatasi masalah fisiologis dan patologis dalam penyelaman.

“Pemerintah sudah mencanangkan di 2019 untuk membuka lebih banyak lagi ‘chamber-chamber’ di daerah pariwisata, tetapi spesialis dokter di bidang hiperbarik di Indonesia belum terlalu banyak. Yang ada hanya diawasi oleh operator-operator saja,” katanya.

Maka di saat pemerintah telah bergerak cepat dengan menempatkan “chamber” di hampir seluruh wilayah Indonesia, penyediaan dokter-dokter spesialis dan penataan regulasinya dinilai juga harus dikejar untuk memenuhi kebutuhannya yang mendesak.

Baca Juga : Dihari Pertama, Pendaftaran PPDB Online SMA Bermasalah

 

Rep:Azz / Ed:KIS

Sumber : Republika.co.id